Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Suatu ketika saya bertemu dengan seorang
nenek. Dia, yang yang ringkih dengan kebaya bermotif kembang itu,
tampak sedang memegang sebuah kantong plastik. Hitam warnanya, dan
tampak lusuh. Saya duduk disebelahnya, di atas sebuahmetromini yang menuju ke stasiun KA.
Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak
jelas. Matanya selalu berair, keriputnya, mirip dengan aliran sungai.
Kelok-berkelok. Hmm…dia tampak tersenyum pada saya. Sayapun balas
tersenyum. Dia bertanya, mau kemana.
Saya pun menjawab mau kerja, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.
Minyak goreng, jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah
pembagian sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia
mengantri untuk mendapatkan minyak itu. Tanpa ditanya, dia kemudian
bercerita, bahwa minyak itu, akan dipakai untuk mengoreng tepung buat
cucunya. Di saat sore, itulah yang bisa dia berikan buat cucunya.
Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia
tak punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung
buatannya. Itupun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap
hari dia bisa mendapatkan minyak dan tepung gratis.
Degh. Saya
terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang nenek
yang rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya.
Sang nenek, memberikan saya hikmah yang dalam sekali. Saya teringat
pada Ibu. Allah memang maha bijak. Sang nenek hadir untuk menegur saya.
Sudah beberapa saat waktu sebelumnya, saya sering melupakan Ibu.
Seringkali makanan yang disajikannya, saya lupakan begitu saja. Mungkin,
karena saya yang terlalu sok sibuk dengan semua urusan kerja. Sering
saat pulang ke rumah, saya menemukan nasi goreng yang masih tersaji di
meja, yang belum saya sentuh sejak pagi.
Sering juga saya tak
sempat merasakan masakan Ibu di rumah saat kembali, karena telah makan
di tempat lain. Saya sedih, saat membayangkan itu semua. Dan Ibu pun
sering mengeluh dengan hal ini. Saya merasa bersalah sekali.
Saya bisa rasakan, Ibu pasti memberikan harapan yang banyak untuk semua
yang telah dimasaknya buat saya. Tentu, saat memasukkan bumbu-bumbu, dia
juga memasukkan kasih dan cintanya buat saya.
Dia pasti juga
akan menambahkan doa-doa dan keinginan yang terbaik buat saya. Dia
pasti, mengolah semua masakan itu, mengaduk, mencampur, dan menguleni,
sama seperti dia merawat dan mengasihi saya. Menyentuh dengan lembut,
mengelus, seperti dia mengelus kepala saya di waktu kecil.
***
Metromini telah sampai. Setelah mengucap salam pada nenek itu, saya pun
turun. Namun, saya punya punya keinginan hari itu. Mulai esok hari,
saya akan menyantap semua yang Ibu berikan buat saya. Apapun yang
diberikannya.
Karena saya yakin, itulah bentuk ungkapan rasa
cinta saya padanya. Saya percaya, itulah yang dapat saya berikan sebagai
penghargaan buatnya.
Saya berharap, tak akan ada lagi makanan yang tersisa. Saya ingin membahagiakan Ibu. Terima kasih Nek ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar