SI PRIA 'ES' (Kisah Nyata Unik Seputar Jodoh & Takdir )
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim
... Aku kenal suami saat masih bekerja di sebuah perusahaan pembuat
rambut palsu di kota ku. Kala itu aku sering melihatnya saat pulang dan
pergi dari pabrik. Kudapati ia setiap sore dan pagi di halaman masjid.
Entah tengah menyapu masjid ataupun mengajar anak-anak mengaji di
masjid yang sama. Pemuda yang terlihat kalem itu juga menggelar
dagangannya di siang hari saat jam istirahat pabrik.
Tetap saja
ia kalem, sedikit senyum, meski teman-teman wanita di pabrik iseng
menggodanya. Dan tak kusangka, “Pria Es” begitu teman-teman pabrik
menjulukinya, menjadi buah bibir di pabrik.
Bahkan beberapa
teman kerjaku, terang-terangan bersaing mendapatkan perhatian si “Pria
Es”. Pagi dan sore mereka sengaja pulang pergi kerja lewat masjid tempat
“Pria Es” mengajar ngaji.
Padahal rumah mereka jelas-jelas
berlawanan arah. Yang terlintas dalam benakku, mereka benar-benar
membuang waktu dan kurang kerjaan. Hmm… aneh, sampai segitunya. Padahal
mereka belum tentu memperoleh apa yang mereka inginkan. Aku tertawa
kecut dan geleng-geleng kepala.
Esok hari, pabrik heboh. Ketika
Ratna, sebut saja begitu, bercerita bahwa pulang kerja kemarin, ia
diam-dia membuntuti “Pria Es” itu sampai ke rumah. Ketika beberapa teman
lain bertanya, “Dimana rumahnya?” Ratna tutup mulut. “enak saja, usaha
sendiri donk”.
Ratna melanjutkan kisahnya. Saat itu ia
pura-pura tersesat mencari alamat seseorang. “tapi sebel dech, masa dia
Cuma ngomong sedikit dan tidak menyuruh masuk. Padahal aku setengah mati
mengikutinya,” kontan tawa meledek dari seantero sudut runag pabrik.
Aku hanya tersenyum.
Qodarullah, esoknya aku kesiangan
berangkat kerja. Aku setengah ngebut menggenjot sepeda bututku. Hingga
saat di tikungan, “Gubrak!!” tahu-tahu aku sudah terkapar di jalan.
Sementara kudengar pria penabrakku berteriak “Allahuakbar. Bismillah!!”
kulihat motornya meliuk-liuk. Sebelum akhirnya ia melompat limbung dan
jatuh sangat keras.
Sesaat, aku sadar dari terkejutku. Mencoba
bangun untuk menepi dari tengah jalan. MasyaAllah, sakit luar biasa.
Namun aku tetap memaksakan diri untuk beranjak. Karena jujur aku
mencemaskan keadaan penabrakku. Ia diam tak bergerak. Sempat kulihat
roda sepedaku meliuk seperti angka delapan. Sadelnya lepas entah
kemana..
Dengan tubuh yang gemetar dan sakit di sekujur tubuh,
ragu-ragu kudekati pria itu. Kuguncang tubuhnya yang telungkup. “Mas,
mas, bangun mas?!” suaraku bercampur tangis karena takut. Kutengok
sekeliling, sepi, tak ada lalu lalang orang untuk meminta pertolongan.
Untung ia jatuh di tepi jalan hingga aku tak perlu menariknya.
Kucoba berulang kali memanggilnya, tetap tak ada sahutan. Perlahan,
meski berat kucoba membalikkannya. Kubuka helm yang masih menutup kepala
dan wajahnya. Masya Allah, si “Pria Es” itu!! Tiba-tiba dunia berputar,
penuh bintang dan hitam… bukan karena “Pria Es itu. Tapi aku merasa
sakit luar biasa di belakang kepala dan mendadak muntah.
Selanjutnya aku ada di rumah sakit. Kulihat ibu kostku di runag rawat ,
ia menangis melihatku. “Pria Es” itu juga ada disana. Ia mendekatiku.
“Maaf mbak saya yang menabrak mbak tadi pagi. Soal sepeda dan biaya
rumah sakit, InsyaAllah saya yang tanggung. Mbak disini sampai sembuh.
Saya juga sudah minta ijin ke pabrik. Maaf juga mbak, saya yang
mengabari ibu kost. Dan kalau saya boleh tahu saya minta alamat mbak dan
untuk ngabari orang tua mbak. “ya, terimakasih mas, saya nggak punya
orang tua. Saya Cuma punya dua kakak laki-laki. Dinasnya di Kalimantan
dan Sumatra. Nggak usah dikabari, nanti saya yang memberi tahu sendiri”.
“Oo…”, hanya itu yang keluar dari mulutnya..
Malamnya “Pria
Es” itu yang menjagaku. Hasil pemeriksaan siang tadi, aku mengalami
gegar otak ringan. Saat menjagaku, ia hanya duduk di kejauhan. Sesekali
bertanya apa yang aku perlukan dan apa yang aku keluhkan.
Terkadang ia berbicara dengan ibu kostku yang sudah sepuh. Beliau
tinggal sendiri. Beliau adalah teman ibu saat mengajar di SD. Setelah
bapak dan ibu meninggal, kebetulan orang tua kami sama-sama anak
tunggal, aku tinggal bersama dua kakakku hingga mereka ditempatkan di
luar jawa.
Sebenarnya mereka ingin aku ikut mereka, tapi aku
tak mau. Rumah besar peninggalan orang tua kami kontrakkan dan aku oleh
kakakku dititipkan pada sahabat ibu sekalian menemani beliau.
Baru hari ke dua di RS, aku menanyakan keadaannya, ia hanya menjawab
pendek dan tak perlu mengkhawatirkannya. Padahal kulihat, lengan
tangannya penuh luka merah yang belum mongering. Mukanya lebam dan dagu
diperban, dan jalanpun pincang.
Dua malam ia tidur di lantai,
jauh di ujung kamar kelas 1, dan selalu membelakangiku… agak aneh
menurutku, ia pun sering membuang pandangan bila berbicara denganku… Dua
bulan sejak keluar dari RS , aku tak pernah melihatnya lagi. Tapi ia
masih menitipkan uang pada bu Has, ibu kostku untuk biaya kontrolku.
Padahal aku tak berharap atau menuntutnya terus-menerus mengobati
pengobatanku. Aku tak mau membebaninya, aku juga tahu kondisinya yang
hanya berdagang kecil-kecilan. Aku menyimpan uang pemberiannya. Ada
niatku untuk mengembalikan padanya suatu hari.
Delapan bulan
berlalu, aku sudah melupakan “Pria Es” itu. Tapi lewat bu Has, ia masih
rajin menitipkan uang kontrol. Bu Has bilang pria itu ingin aku pulih
seutuhnya. Benar-benar pria bertanggungjawab. Dipertengahan bulan
kesembilan, kakak sulungku meneleponku dari kalimantan.
“Na, ada yang mau nikahin kamu. Katanya, kamu sudah kenal dia dan pria itu sudah kenal kamu”.
“Pria yang mana mas?! Pacaran atau dekat dengan cowok saja nggak pernah
kok. Mas Eko pasti ngarang dech”. Kudengar mas Eko tertawa diseberang
telepon.
“Mas sudah tahu dan kenal orangnya. Biar kamu ada yang
menjaga dan aku nggak kepikiran di kalimantan. Terima saja ya,
insyaallah dia baik dan bertanggungjawab. Malah dia sudah ketemu mas
lho. Jauh-jauh datang cuma minta izin nikahin kamu. Nggak semua
laki-laki begitu lho, Na. Dia itu seribu satu adanya”.
Tak ada
reaksi dariku, kakak sulungku melanjutkan pembicaraannya. “Percaya dech,
kakak nggak sembarang pilih jodoh buat kamu. Kakak juga mendapat
informasi akurat dari orang yang bisa kakak percaya selama ini.
Orangnya, body dan wajahnya boleh juga lho… kamu nolak,pasti menyesa!”
Lagi-lagi tawa kakakku pecah di ujung telepon.
Telingaku terasa
panas dan berdengung, aku tersenyum. Hatiku begitu ringan
berbunga-bunga. Tanpa menunggu jawabanku Mas Eko menutuo telepon.
Sebulan kemudian, Mas Eko dan Mas Dwi pulang ke Jawa. Mereka sengaja
cuti untuk mendampingi pernikahanku dan menjadi wali nikahku. Hingga
sepanjang akad nikah tak henti-hentinya aku menangis. Aku juga
bersyukur, memiliki dua kakak yang menjagaku.
Juga Bu Has yang
selalu menasehatiku dan ternyata beliau juga yang menjadi “Informan” Mas
Eko dan Mas Dwi. Beliau juga yang “mempromosikan” ku pada calon
suamiku. Tahukah anda siapa yang menjadi suamiku? Ternyata ia adalah si
“Pria Es” itu!!! Subhanallah. Delapan bulan ia menghilang ternyata ikut
tes CPNS dan akhirnya ia lolos.
Saat teman pabrik kuundang,
riuhlah mereka, begitu tahu ternyata suamiku adalah pria yang mereka
perebutkan. Banyak cubitan di pipi kuterima, gemes kalah saing, katanya.
Sejak menikah pula, aku keluar dari pabrik atas kesadaranku sendiri.
Aku tahu hukum membuat rambut palsu dan sejenisnya dari buku hadiah
suami. Bersamanya aku juga mulai hijrah, mengenal manhaj salaf hingga
hari ini. Selain itu aku membuka konveksi kecil-kecilan di rumah untuk
mengisi waktu luangku.
Kini kami telah dikaruniai tiga bocah
yang lucu-lucu. Bu Has sudah berpulang setahun lalu. Mudah-mudahan Allah
subhanahu wa ta’ala membalas amal baiknya dan menjadikan keluarga kami
senantiasa memperoleh sakinah mawaddah warrahmah (***)
( Sebagaimana diceritakan oleh shahibul qishah kepada Ummu Daud)
Sumber : Majalah nikah sakinah volume 9 no 11 via enkripsi.wordpress.com
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar