MEMBAKAR IBLIS
Bismillahir-Rah maanir-Rahim ...
Rekreasi ilmiah ini dilakukan sekelompok siswi dan para guru wanita
menuju salah satu desa untuk menyaksikan tempat-tempat bersejarah.
Ketika bus yang dinaiki telah sampai, mereka melihat desa itu seakan
terasing dari daerah lain, dan kelebihannya memang daerahnya terpencil
dan penduduknya sedikit.
Para siswi dan guru mulai turun dari
bus... dan mulai menyaksikan situs-situs bersejarah. Mereka menulis
sebagian yang mereka saksikan, dan pada awalnya mereka saling berkumpul
satu dengan yang lainnya untuk menyaksikan pemandangan. Setelah beberapa
jam para siswi tersebut masing-masing berpencar untuk mencari tempat
yang menakjubkan, lalu berdiam di situ.
Ada satu siswi yang
bersemangat sekali untuk menulis situs-situs itu dengan seksama. Tanpa
terasa ia menjauh dari teman-temannya. Setelah beberapa lama para siswi
dan para guru kembali menaiki bus. Karena kurangnya penataan, para guru
mengira semua siswi telah menaiki bus.
Tetapi satu siswi tadi
masih tertinggal di sana, dan teman-temannya telah meninggalkannya.
Ketika waktu semakin sore, siswi tersebut kembali ke tempat semula.
Tetapi ia lihat tempat itu telah sepi, tidak ada seorang pun selain
dirinya.
Ia memanggil dengan sekuat suaranya tetapi tidak ada
jawaban sama sekali. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan menuju desa
terdekat dengan harapan ia mendapatkan sarana untuk dapat kembali ke
kotanya.
Setelah melakukan perjalanan yang panjang sembari
menangis tiba-tiba ia melihat gubuk terpencil. Ia pun mengetuk pintu.
Ternyata yang keluar adalah pemuda yang usianya mendekati dua puluh
tahun membukakan pintu untuknya. Pemuda itu terkejut dan berkata,
“Engkau ini siapa?”
Ia menjawab, “Aku seorang siswi yang datang
ke sini bersama dari sekolah. Tetapi mereka meninggalkanku sendirian,
aku tidak tahu jalan pulang.”
“Sesungguhnya engkau berada di
desa terasing. Sedangkan desa yang engkau kehendaki berada di arah
utara, sedangkan engkau berada di arah selatan, sedangkan disana tidak
ada seorang pun yan tinggal.”
Ia meminta siswi itu untuk masuk
ke gubuknya dan bermalam di situ sampai masuk waktu pagi sehingga mudah
untuk mencari transportasi menuju kotanya. Ia mempersilahkan si gadis
untuk tidur di atas tempat tidurnya sedangkan ia sendiri akan tidur di
atas tanah di sudut kamar.
Pemuda itu mengambil kain dan
digantungkan pada tali sekeliling kamar tidur agar tertutup dari arah
kamar lainnya. Si siswi pun merebahkan tubuhnya dengan rasa takut. Ia
pun menyelimuti seluruh tubuhnya kecuali dua matanya yang mencoba
memperhatikan apa yang dilakukan si pemuda.
Si pemuda sedang
duduk di pojok kamar dengan buku di tangannya. Tiba-tiba ia meletakkan
buku dan melihat ke lilin yang berada di depannya. Setelah itu ia
meletakkan jempolnya di atas lilin selama sekitar lima belas menit
sehingga membakarnya. Ia kemudian melakukan hal yang sama terhadap semua
jemarinya.
Si gadis senantiasa mengawasinya. Ia menangis
tertahan karna takut jika pemuda itu hendak berbuat sesuatu dan dikira
ia mengikuti aliran sekte tertentu. Keduanya tidak dapat tidur sama
sekali sampai pagi.
Kemudian paginya pemuda tersebut
mengantarkan si gadis samapai ke rumahnya. Gadis tersebut menceritakan
pengalamannya bersama pemuda tersebut kepada kedua orang tuanya. Tetapi
si ayah tidak percaya terhadap cerita tersebut mengingat putrinya sedang
sakit karna ketakutan dengan peristiwa yang dialaminya.
Si
ayah pun pergi menemui pemuda tersebut dan mengaku sebgai musafir, dan
memintanya untuk menunjukan jalan. Si ayah memperhatikan jemari si
pemuda yang keduanya di perban. Si ayah bertanya tentang jemarinya.
Pemuda itu menjawab “Dua malam yang lalu telah datang kepadaku seorang
gadis cantik. Ia tidur dirumahku. Sedangkan setan mengodaku. Aku
khawatir terjerumus ke dalam dosa atau ke bodohan. Maka aku putuskan
untuk membakar jemariku satu demi satu, agar syahwat setan ikut terbakar
bersamanya sebelum Iblis memperdayaku. Hasrat untuk berbuat tidak
senonoh terhadap si gadis lebih berat rasanya dari pada sakitnya jari
saat terbakar.”
Ayah si gadis kagum dengan keteguhan pemuda
tadi. Beliau pun mengundangnya ke rumah. Ia memutuskan untuk
menikahkannya dengan putrinya, sedangkan si pemuda belum tahu bahwa
calon istrinya tadi adalah si gadis cantik yang pernah bersamanya.
Setelah ia berhasil menghindari perbuatan haram bersama si gadis pada
malam itu, maka diganti dengan keberuntungan memilikinya selama
hidupnya.
"Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah,
kecuali Allah akan mengganti bagimu denga sesuatu yang lebih baik dari
apa yang kamu tinggalkan."(HR. Ahmad )
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar