Nabi Muhammad saw, Ali ra, dan Nabi Khidir as
Syaikh
Abdul Qodir Jailani berkata, “Sebuah suara berkata kepadaku saat aku
berada di pengasingan diri, “Kembali ke baghdad dan ceramahilah orang2”.
Aku pun masuk baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yg
tidak aku sukai dan karena itulah aku tdk jadi mengikuti mereka.
“Sesungguhnya” kata suara tersebut, “mereka akan mendapatkan manfaat
dari keberadaan dirimu”.
“Apa hubungan mereka dg keselamatan agamaku/keyakinanku” tanyaku.
“Kembali (ke baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu” jawab suara itu.
Aku pun membuat 70 perjanjian dengan ALLAH. Diantaranya adalah tidak
ada seorang pun yg menentangku dan tidak ada seorang muridku yg
meninggal kecuali dalam keadaan bertaubat. Setelah itu, aku kembali ke
baghdad dan mulai berceramah.
Suatu ketika saat aku sedang berceramah, aku melihat sebuah cahaya terang benderang mendatangi aku.
“Apa ini dan ada apa?” tanyaku
“Rosulullah akan datang menemuimu untuk memberikan selamat” jawab sebuah suara
Sinar tersebut makin membesar dan aku mulai masuk dalam kondisi
spiritual yg membuatku setengah sadar. Lalu aku melihat Rosulullah
didepan mimbar, mengambang diudara dan memanggilku, “Wahai Abdul Qadir”.
Begitu gembiranya aku dg kedatangan Rosulullah saw, aku melangkah naik
ke udara menghampirinya. Beliau meniup kedalam mulutku 7 kali. Kemudian
Ali ra datang dan meniup kedalam mulutku 3 kali. “Mengapa engkau tdk
melakukan seperti yg dilakukan oleh Rosulullah?” tanyaku kepadanya.
“sebagai rasa hormatku kepada Rosulullah saw” jawab beliau.
Rosulullah kemudian memakaikan sebuah jubah kehormatan kepadaku. “Apa
ini” tanyaku. “ini” jawab Rosulullah, “Adalah jubah kewalianmu dan
dikhususkan kepada orang2 yg mendapat derajad Qutb dalam jenjang
kewalian”. Setelah itu, aku pun tercerahkan dan mulai berceramah.
Saat khidir as datang hendak mengujiku dg ujian yg diberikan kepada
para wali sebelumku, ALLAH membukakan rahasia-nya dan apa yg akan
dikatakannya kepadaku. Aku berkata kepadanya, “Wahai Khidr, apabila
engkau berkata kepadaku ‘Engkau tidak akan sabar kepadaku’ maka aku akan
berkata kepadaku, “Engkau tidak akan sabar kepadaku”. Wahai Khidr,
engkau termasuk golongan Israil sedangkan aku golongan Muhammadi, maka
inilah aku dan engkau. Engkau dan aku seperti sebuah bola dan lapangan,
yg ini Muhammad dan yg ini Ar-Rahman, ini kuda berpelana, busur
terentang dan pedang terhunus”
Al-Khattab, pelayan Syaikh Abdul
Qodir meriwayatkan bahwa suatu hari ketika beliau sedang berceramah
tiba2 beliau berjalan naik ke udara dan berkata, “Hai orang Israil,
dengarkan apa yg dikatakan oleh kaum Muhammad” lalu kembali ke
tempatnya. Saat ditanya mengenai hal tersebut, beliau menjawab, “Tadi
Abu Abbas Al-Khidr as lewat maka aku pun berbicara kepadanya seperti yg
kalian dengar tadi dan ia berhenti”. (Mahkota Para Aulia, 2005)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar