Ridho Allah lebih penting daripada ridho (segelintir) manusia.
Nabi lemah lembut dgn sesama Muslim dan keras thd orang kafir.
Nabi senang mendamaikan sesama Muslim. Bukan justru mengadu-domba mereka karena tidak akan masuk surga orang yang gemar mengadu-domba.
Nabi lemah lembut dgn sesama Muslim dan keras thd orang kafir.
Nabi senang mendamaikan sesama Muslim. Bukan justru mengadu-domba mereka karena tidak akan masuk surga orang yang gemar mengadu-domba.
“Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak dapat masuk surga seorang yang gemar mengadu domba.” (Muttafaq ‘alaih)
Allah Ta’ala berfirman: “Jangan pula engkau mematuhi orang yang suka mencela, berjalan membuat adu domba.” (al-Qalam: 11)
Saat Bani ‘Aus dan Khazraj nyaris perang
karena adu domba Yahudi yg mengungkit2 peperangan mereka tempo dulu,
Nabi mendamaikannya. Nabi berhasil mendamaikan 2 suku yang biasa
bermusuhan menjadi bersaudara di dalam Islam:
“Dan
Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun
kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu
tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah
mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha
Bijaksana.” [Al Anfaal 63]
Saat Abu Bakar ra marah kepada
saudaranya yang menyebar fitnah bahwa anaknya Siti ‘Aisyah berzina dan
bersumpah tidak akan memberinya sedekah lagi, Nabi justru memintanya
memaafkan. Kita mungkin akan mengkafirkan orang yang telah memfitnah
Siti ‘Aisyah dengan tuduhan terkeji: Zina. Nabi pun harusnya sangat
tersinggung sebab tuduhan apalagi yang lebih keji daripada zina terhadap
seorang istri?
Namun Islam mengajarkan dakwah itu
dilakukan dengan cara yang baik. Menyadarkan ummat islam. Bukan justru
mengkafirkan mereka dan mengeluarkan mereka dari Islam:
“Dan janganlah orang-orang yang
mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka
(tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang
yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan
hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin
bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang” [An Nuur 22]
Saat ini banyak orang yang gemar berdusta untuk mengadu-domba sesama
manusia. Tanpa meneliti kebenaran berita, mereka sebarkan dusta itu agar
kita membenci satu kaum. Padahal itu dosa besar:
Nabi s.a.w. bersabda: “Tahukah engkau
semua, apakah kedustaan besar itu? Yaitu Namimah atau banyak bicara adu
domba antara para manusia.” (Riwayat Muslim)
Pada akhirnya Islam itu akan tergambar kepada kemuliaan akhlak:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” [Al Ahzab 21]
“Maka disebabkan rahmat dari
Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu
bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi
mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu…” [Ali
'Imran 159]
Saat para sahabat disiksa di Mekkah dan
Nabi juga dihina seperti dilempari tahi unta bahkan hendak dibunuh, Nabi
tidak meminta para sahabat memerangi mereka. Karena Nabi menghindari
pertumpahan darah. Nabi memilih hijrah ke Madinah dan menghindari
peperangan.
Saat diserang kaum kafir Quraisy di
Madinah pun Nabi memilih bertahan membela diri pada perang Badar, perang
Uhud, dan Perang Khandaq. Saat musuh kalah dan mundur, beliau tidak
mengejar dan menghabisi mereka. Tapi membiarkan mereka lari
menyelamatkan diri.
Setelah itu, baru Nabi menaklukkan kota
Mekkah dengan Futuh Mekkah. Itu pun tidak dengan peperangan. Dan nyaris
tidak ada korban jiwa. Ini karena Nabi bukanlah orang yang kejam dan
haus darah.
Abu Sofyan dedengkot orang kafir yang
jadi musuh bebuyutannya beliau hormati dan dijadikan sahabat. Hindun
yang membunuh paman Nabi, Sayyidina Hamzah, dengan keji hingga tidak
berbentuk lagi serta memakan jantungnya beliau maafkan. Padahal bisa
saja beliau jadikan dia sebagai penjahat perang yang dihukum mati karena
telah bertindak kejam melampaui batas. Nabi juga memaafkan Wahsyi yang
membunuh paman beliau. Sehingga Wahsyi bisa jadi Muslim yang baik dan
kelak tombaknya membunuh satu Musuh Islam yang mengaku sebagai Nabi,
yaitu Musailamah Al Kazzab.
“Dan tidaklah sama kebaikan dan
kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka
tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah
telah menjadi teman yang sangat setia.
sifat-sifat yang baik itu tidak
dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak
dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan
yang besar.” [Fushshilat 34-35]
Saat Romawi membunuh seorang utusan
Muslim pun Nabi sangat murka. Tapi Nabi tidak menyerang dan membantai
orang-orang Romawi. Beliau hanya memimpin 30 ribu tentara Muslim ke
Tabuk yang ada di perbatasan antara Romawi dan Islam. Beliau tunggu
pasukan Romawi selama 20 hari di sana. Saat tentara Romawi tidak berani
muncul, beliau pun pulang kembali ke Madinah. Jadi meski Nabi amat kuat
dan ditakuti oleh para pemimpin kafir Quraisy, Yahudi, Romawi, dan
Persia, namun beliau tidak semena-mena membabi-buta membunuh mereka. Itu
karena beliau adalah Rahmatan lil ‘Alamin!
Jadi saya prihatin sekali saat ada
sekelompok Muslim yang gemar menebar dusta dan fitnah untuk menebarkan
peperangan dan pembantaian di antara sesama Muslim.
Tak jarang karena memaki dan membunuh
sesama Muslim itu dosa karena kita justru diperintahkan menjaga Ukhuwah
Islamiyyah dan orang-orang yang beriman itu bersaudara, mereka kafirkan
dulu sesama Muslim. Setelah itu, baru mereka caci-maki dan mereka bunuh.
Na’udzu billah min dzaalik.
Tidak pantas juga bagi seorang Muslim
untuk mudah menganggap sesat atau mengkafirkan sesama Muslim yang masih
sholat dan mengucapkan 2 kalimat syahadah. Jika begitu, maka mereka itu
lemah imannya atau mungkin justru tidak punya iman:
Tiga perkara berasal dari iman:
(1) Tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan “Laailaaha illallah”
karena suatu dosa yang dilakukannya atau mengeluarkannya dari Islam
karena sesuatu perbuatan; (2) Jihad akan terus berlangsung
semenjak Allah mengutusku sampai pada saat yang terakhir dari umat ini
memerangi Dajjal tidak dapat dirubah oleh kezaliman seorang zalim atau
keadilan seorang yang adil; (3) Beriman kepada takdir-takdir. (HR. Abu
Dawud)
Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)
“Hai orang-orang yang beriman, apabila
kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu
mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu [dan
mengucapkan Tahlil]: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu
membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia,
karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu
dahulu [dulu mereka juga kafir], lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya
atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan. ” [An Nisaa' 94]
Di saat Usamah, sahabat Rasulullah saw,
membunuh orang yang sedang mengucapkan, “Laa ilaaha illallaah, ” Nabi
menyalahkannya dengan sabdanya, “Engkau bunuh dia, setelah dia
mengucapkan Laa ilaaha illallaah.” Usamah lalu berkata, “Dia mengucapkan
Laa ilaaha illallaah karena takut mati.” Kemudian Rasulullah saw.
bersabda, “Apakah kamu mengetahui isi hatinya?” [HR Bukhari dan Muslim]
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah
sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi
yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan
perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu
lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan
memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan
adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak
bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” [Al Hujuraat 11]
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka
itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka
memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa
jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [Al Hujuraat 12]
KeIslaman seseorang bukan cuma Hablum
minallah (Hubungan dengan Allah) nya baik. Tapi Hablum Minan Naas
(Hubungan dengan manusia) juga baik.
Seorang Muslim yang baik akan berkasih-sayang terhadap sesama Muslim. Tidak memusuhinya, memakinya, apalagi memeranginya:
“Muhammad itu adalah utusan
Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap
orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat
mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya,
tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah
sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,
yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu
menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di
atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena
Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan
orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang
besar.” [Al Fath 29]
“Hai orang-orang yang beriman,
barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah
akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin,
yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan
Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.
Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya,
dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” [Al Maa-idah
54]
Jadi sayang sekali jika ummat Islam
terus diadu-domba untuk memerangi sesama Muslim sehingga jutaan korban
berjatuhan, sementara orang-orang Yahudi dan Nasrani di Palestina, Iraq,
dan Afghanistan saat ini justru membantai jutaan ummat Islam di sana.
Mereka aman dari gangguan lisan dan juga tangan dari ummat Islam yang
seharusnya mencegah kezaliman mereka….
Coba lihat peta peperangan ummat Islam
di Timur Tengah. Boleh dikata peperangan besar ummat Islam dari tahun
1980 itu terjadi di seluruh wilayah Timur Tengah, namun Israel justru
aman dari gempuran ummat Islam. Paling-paling Israel cuma mendapat
sedikit gangguan dari Milisi Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon.
Oleh milisi kecil. Bukan oleh NEGARA Islam. Tak heran jika Israel bisa
kurang ajar membantai ummat Islam di Palestina terus-menerus.
Saat Saddam Hussein menyerang Iran yang
baru saja melakukan Revolusi Islam Iran di tahun 1980, negara-negara
Arab pun mendukungnya. Perang Iran-Iraq berlangsung hingga tahun 1988.
Tidak ada hasil yang didapat kecuali korban jiwa 1 juta orang di kedua
belah pihak. Baik Sunni mau pun Syi’ah, Arab mau pun Persia, banyak yang
terbunuh. Uang yang habis sia-sia US$ 1 trilyun. Bayangkan jika 1 juta
orang tersebut dikerahkan untuk menyerang Israel, tentu Israel sudah
hancur!
Saat Saddam menyerang Kuwait dan Arab
Saudi, ini dibalas oleh negara-negara Arab dengan mengundang pasukan AS
dan Sekutunya untuk menyerang Iraq. Menurut perkiraan 1 juta orang lebih
tewas. Namun yang dibunuh oleh tentara AS dan Sekutunya hanya 150 ribu
orang. Sebagian besar justru tewas akibat Sunni dan Syi’ah saling bunuh!
Tentara AS dan Sekutunya yang tewas kurang dari 5000 orang.
Dengan adu domba dan adanya kelompok
ekstrim yang dengan enteng mengkafirkan dan menghalalkan darah Muslim
lainnya, kaum kafir seperti AS tidak perlu capek-capek membunuh ummat
Islam karena mereka saling bunuh sendiri!
Saddam Hussein terlepas dari
kekurangannya berhasil mendamaikan rakyatnya yang terdiri dari Sunni dan
Syi’ah. Mungkin beliau membunuh beberapa ribu kelompok yang ekstrim.
Tapi jelas berhasil mencegah saling bunuh antar rakyatnya yang mencapai
hampir 1 juta jiwa. Sekarang Sunni dan Syi’ah mudah sekali diadu-domba
hingga saling bunuh.
Di Libya, 30 ribu Muslim terbunuh akibat
perang saudara. Di Suriah saat ini 10 ribu orang tewas akibat
pemberontakan bersenjata oleh Ikhwanul Muslimin terhadap pemerintah
Suriah. Dari pihak pemerintah Suriah yang tewas sekitar 3000 orang,
sedang dari Ikhwanul Muslimin 7000 orang. Jika pemberontakan bersenjata
Ikhwanul Muslimin diteruskan, mau jatuh korban berapa banyak lagi? 50
ribu? 100 ribu? Atau lebih?
Padahal Nabi terhadap kaum kafir Quraisy
yang jelas kekafirannya dan jelas kezalimannya tidak mau memberontak
yang bukan hanya menimbulkan korban di kalangan kafir, tapi juga ummat
Islam. Beliau memilih hijrah ke Madinah untuk menyelamatkan ummatnya.
Allah sangat menghargai nyawa manusia. Allah memerintahkan kita untuk menjaganya:
“Oleh karena itu Kami tetapkan
(suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang
manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan
karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah
membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan
seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia
semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami
dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak
diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam
berbuat kerusakan dimuka bumi.” [Al Maa-idah 32]
Jadi saat ummat Islam tertindas, jika
memang dengan demo damai bisa mengganti pemerintah itu tidak masalah.
Tapi jika harus mengorbankan puluhan ribu bahkan ratusan ribu ummat
Islam, alangkah baiknya hijrah ke tempat yang lebih baik sehingga
akhirnya bisa dibentuk pemerintah yang sesuai dengan Islam. Jangan
sia-siakan nyawa ummat Islam dan berbuat kerusakan.
Sebagai contoh saat ini di Mesir katanya
Salafi menguasai parlemen 10% sedang Ikhwanul Muslimin 48%. Nah mereka
berdua mayoritas. Apalagi yang menghalangi mereka untuk menjadikan Mesir
sebagai negara Islam? Begitu pula dengan Libya yang katanya pemberontak
Libya itu adalah Muslim yang sejati. Akankah negara Islam tegak di
negara itu, atau cuma sekedar jadi boneka Yahudi dan Nasrani?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar