"Pembagian Dzikir"
Peringkat
dzikirullah itu ada yang diucapkapkan atau lafadzkan dengan mengeraskan
suara ada pula yang hanya dengan suara hati, namun sebagai pemula atau
tingkat latihan sebaiknya gunakan cara lafadz atau mengeraskan suara.
Setelah itu Dzikrullah akan merayap naik tingkat demi tingkat
keseluruh diri kita hingga turun ke hati, ke ruh atau menjiwa, yang
akhirnya masuk ke peringkat rahasia. Dari tingkat rahasia ini akan terus
bergerak menuju tingkat paling rahasia, yaitu Rahasia dalam Rahasia (
sirr al-Asrar ). Namun semua tingkatan terletak pada Karunia dan izin
Allah Swt, karna Dialah yang berhak menentukan_Nya.
Dzikirullah yang hanya di lafadz kan oleh lisan, merupakan manifestasi
dari hati agar tidak mudah melupakan Allah Swt. Bila Dzikir senyap
(sunyi) atau dzikir hati merupakan pergerakan emosi atau perasaan, yaitu
rasa tentang pendhohiran keagungan dan keindahan Allah Swt.
Sedangkan dzikir ruh lahir melalui Nurullah ( Cahaya Allah ) yang
dipancarkan oleh keagungan dan keindahan Allah Swt. Dzikir peringkat
rahasia lahir melalui Dzawq yang dirasakan dari hasil melihat
rahasia-rahasia Allah Swt. Dzikir peringkat rahasia bagi segala rahasia
(sirr al-Asrar) akan membawa kita pada pengertian ayat ini :
فى مقعد صدق عند مليك مقتدر
“ Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang berkuasa.”
Dzikir peringkat terakhir adalah dzikir Khafiy al-Akhfa’, yaitu yang
paling dalam dan paling tersembunyi. Dzikir ini akan membawa kita ke
peringkat perasaan fana’ atau lenyap diri dari perasaan dan berpadu
dengan Allah Swt.
Pada hakikatnya tidak seorang pun, kecuali
Allah yang mengetahui keadaan seseorang yang telah memasuki peringkat
itu, yang di dalamnya terkandung semua ilmu. Di situlah ujung atau
penambat segala dan setiap seuatu.
Firman Allah Swt :
يعلم السر واخفي
“ Dia mengetahui yang rahasia dan yang lebih tersembunyi .” ( QS. Thaha:7 )
Demikianlah peringkat-peringkat dzikir yang kami sebutkan disini,
semuanya itu hanya merupakan pendekatan agar kita dapat memahaminya.
Namun hakikat Dzikir tidak dapat diketahui, kecuali dapat dirasakan
saja.
Wallahu A’lam
Terulas dari kitab “ Sirr al-Asrar Fima Yahtaj Ilayh al-Abrar “,
As-Syekh Abu Muhammad Abdul Qadir al-jailani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar