Senin, 17 Juni 2013

Penyingkapan-NYA

Syaikh Abdullah al-Jaba’i meriwayatkan bahwa Syaikh Abdul Qadir bererita kepadanya, “Suatu ketika timbul keinginan yg kuat dlm hatiku untuk keluar dari baghdad karena suburnya fitnah yg tumbuh. Aku pun mengambil catatanku dan menggantungkannya dipundakku kemudian menuju bab al-halbah utk meninggalkan baghdad menuju padang pasir. Tiba2 aku mendengar sebuah suara berkata kepadaku, “Mau kemanakah engkau?” dan sebuah dorongan yg membuatku terjatuh. Kemudian suara itu kembali berkata, “Kembali, orang2 akan mendapatkan manfaat dari keberadaanmu”. “Apa peduliku dg makhluk lain. Aku keluar demi keselamatan agamaku” jawabku. Suara tersebut kembali berkata, “Kembalilah dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu”.

Setelah itu aku mengalami berbagai kondisi spiritual yg sangat berat shg pd suatu malam aku memohon kepada ALLAH utk meringankan apa yg disingkapkan-NYA kepadaku. Keesokan harinya saat aku melewati mudzaffariah, seorang pria membuka pintu rumahnya dan bertanya, “Apa yg engkau minta kepada ALLAH tadi malam”. Aku terdiam dan tidak dapat mengingat apa yg aku minta tadi malam. Pria tersebut marah dan membanting pintu rumahnya sampai debu2 pintu itu berhamburan ke wajahku. Beberapa langkah kemudian baru aku teringat akan permohonanku kepada ALLAH untuk meringankan penyingkapan-NYA. Seketika itu terbetik dalam hatiku bahwa pria tadi adalah golongan orang2 sholeh (atau dari golongan wali). Ternyata pria tersebut adalah Syaikh Hammad ad-Dabbas.

Aku lalu berguru dan tinggal bersamanya. Beliau yg menerangkan kepadaku berbagai penyingkapan yg tak kupahami selama ini. Jika pulang dari menuntut ilmu, beliau berkata kepadaku, “Untuk apa engkau datang kepada kami. Engkau adalah seorang faqih, pergi ke tempat para fuqaha”. Aku hanya diam dan tidak menjawabnya.

Beliau sering menghina dan memukulku. Dilain kesempatan saat aku pulang menuntut ilmu, beliau berkata, “Hari ini ada yg memberikan roti yg banyak beserta lauk pauknya yg lezat kepada kami, sayang tidak ada yg kami tinggalkan untukmu”. Seringnya beliau melakukan hal tersebut membuat para muridnya berkata kepadaku, “Engkau seorang faqih (ahli hukum), apa yg engkau lakukan disini” (atau untuk apa engkau kemari). Ketika beliau mengetahui apa yg dilakukan para muridnya, beliau melindungiku seraya berkata kepada mereka, “Hai anjing-anjing, kenapa kalian menyakitinya. Demi ALLAH, tidak ada seorang pun diantara kalian yg aku sakiti seperti yg aku lakukan padanya sebagai ujian. Dan aku melihatnya seperti gunung yg menjulang kokoh, tidak bergeming”. (Mahkota Para Aulia, 2005)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar