Penyingkapan-NYA
Syaikh
Abdullah al-Jaba’i meriwayatkan bahwa Syaikh Abdul Qadir bererita
kepadanya, “Suatu ketika timbul keinginan yg kuat dlm hatiku untuk
keluar dari baghdad karena suburnya fitnah yg tumbuh. Aku pun mengambil
catatanku dan menggantungkannya dipundakku kemudian menuju bab al-halbah
utk meninggalkan baghdad menuju padang pasir. Tiba2 aku mendengar
sebuah suara berkata kepadaku, “Mau kemanakah engkau?” dan sebuah
dorongan yg membuatku terjatuh. Kemudian suara itu kembali berkata,
“Kembali, orang2 akan mendapatkan manfaat dari keberadaanmu”. “Apa
peduliku dg makhluk lain. Aku keluar demi keselamatan agamaku” jawabku.
Suara tersebut kembali berkata, “Kembalilah dan engkau akan mendapatkan
keselamatan agamamu”.
Setelah itu aku mengalami berbagai
kondisi spiritual yg sangat berat shg pd suatu malam aku memohon kepada
ALLAH utk meringankan apa yg disingkapkan-NYA kepadaku. Keesokan harinya
saat aku melewati mudzaffariah, seorang pria
membuka pintu rumahnya dan bertanya, “Apa yg engkau minta kepada ALLAH
tadi malam”. Aku terdiam dan tidak dapat mengingat apa yg aku minta tadi
malam. Pria tersebut marah dan membanting pintu rumahnya sampai debu2
pintu itu berhamburan ke wajahku. Beberapa langkah kemudian baru aku
teringat akan permohonanku kepada ALLAH untuk meringankan
penyingkapan-NYA. Seketika itu terbetik dalam hatiku bahwa pria tadi
adalah golongan orang2 sholeh (atau dari golongan wali). Ternyata pria
tersebut adalah Syaikh Hammad ad-Dabbas.
Aku lalu berguru dan
tinggal bersamanya. Beliau yg menerangkan kepadaku berbagai penyingkapan
yg tak kupahami selama ini. Jika pulang dari menuntut ilmu, beliau
berkata kepadaku, “Untuk apa engkau datang kepada kami. Engkau adalah
seorang faqih, pergi ke tempat para fuqaha”. Aku hanya diam dan tidak
menjawabnya.
Beliau sering menghina dan memukulku. Dilain
kesempatan saat aku pulang menuntut ilmu, beliau berkata, “Hari ini ada
yg memberikan roti yg banyak beserta lauk pauknya yg lezat kepada kami,
sayang tidak ada yg kami tinggalkan untukmu”. Seringnya beliau melakukan
hal tersebut membuat para muridnya berkata kepadaku, “Engkau seorang
faqih (ahli hukum), apa yg engkau lakukan disini” (atau untuk apa engkau
kemari). Ketika beliau mengetahui apa yg dilakukan para muridnya,
beliau melindungiku seraya berkata kepada mereka, “Hai anjing-anjing,
kenapa kalian menyakitinya. Demi ALLAH, tidak ada seorang pun diantara
kalian yg aku sakiti seperti yg aku lakukan padanya sebagai ujian. Dan
aku melihatnya seperti gunung yg menjulang kokoh, tidak bergeming”.
(Mahkota Para Aulia, 2005)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar